Informasi Umum
Pementasan di Bangsal Srimanganti Keraton Yogyakarta Hadiningrat merupakan bagian dari "Pentas Paket Wisata" yang rutin melibatkan berbagai sanggar seni dan komunitas dari seluruh wilayah DIY (Yogyakarta, Bantul, Sleman, Gunungkidul, dan Kulon Progo). Pementasan di Bangsal Srimanganti bukan sekadar rutinitas pelestarian kesenian internal istana, melainkan sebuah ekosistem budaya yang inklusif. Kegiatan ini berfungsi sebagai wadah apresiasi strategis bagi berbagai sanggar seni yang tersebar di wilayah D.I. Yogyakarta untuk melestarikan tradisi gaya Yogyakarta di Bangsal Srimanganti Keraton Yogyakarta Hadiningrat.
Sebagai bagian tak terpisahkan dari magnet pariwisata Yogyakarta, pementasan rutin ini memberikan pengalaman budaya yang autentik bagi wisatawan mancanegara maupun domestik. Melalui integrasi antara sanggar lokal dan panggung istana. Bangsal Srimanganti berhasil menjembatani tradisi adiluhung dengan partisipasi masyarakat luas, memastikan bahwa denyut nadi kesenian Yogyakarta tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang Rangkaian pementasan dapat disaksikan pada hari selasa sampai minggu setiap pukul 09.00 – 11.00 WIB di KgD. Bangsal Srimanganti Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Pementasan Srimanganti di Keraton Yogyakarta bersifat tematik dan fleksibel menyesuaikan momentum, contohnya di bulan Juli (Hari Anak Nasional). Pada bulan tersebut, seluruh jadwal pertunjukan dari karawitan, wayang kulit, macapat, hingga wayang wong Mayoritas disajikan oleh sanggar anak-anak dan siswa-siswi (SD -. SMP) dari seluruh wilayah D.I.Y. Hal ini bertujuan sebagai wadah regenerasi, penanaman cinta budaya daerah sejak dini, sekaligus memberikan panggung kehormatan bagi bakat-bakat muda untuk tampil di jantung kebudayaan Jawa.
Arti Nama Srimanganti
Nama "Srimanganti" berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Jawa:
-
"Sri" yang merujuk pada sebutan kehormatan untuk raja atau kemakmuran.
-
"Manganti" (atau menanti-nanti) yang berarti menunggu.
Secara harfiah, Srimanganti dapat diartikan sebagai tempat untuk menanti-nanti tamu kehormatan (raja atau pejabat tinggi). Penamaan ini sangat sesuai dengan fungsi utama bangsal tersebut di masa lalu
Sejarah dan Fungsi Srimanganti
Bangsal Srimanganti merupakan salah satu bangunan utama di kompleks Keraton Yogyakarta yang memiliki sejarah panjang dan nilai filosofis mendalam.
Fungsi Historis:
Pada zaman dahulu, Bangsal Srimanganti berfungsi sebagai area penyambutan bagi para tamu agung, pejabat tinggi, atau duta besar dari kerajaan lain yang datang berkunjung ke Keraton. Para tamu akan menanti di bangsal ini sebelum akhirnya dipersilakan masuk ke area yang lebih dalam untuk bertemu dengan Sultan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya etika dan penghormatan dalam tata krama istana Jawa.
Arsitektur dan Pembangunan:
Bangunan Srimanganti dibuat dari kayu jati dengan arsitektur khas Joglo Mangkurat, yang menunjukkan estetika Jawa. Lantainya berupa tegel bermotif kuno, yang menambah kesan klasik dan autentik. Keraton Yogyakarta mulai dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I pada tahun 1755, dan Srimanganti merupakan bagian integral dari kompleks istana tersebut.
Gamelan Sangumukti termasuk dalam kategori Gangsa Ageng, yaitu perangkat gamelan yang sering digunakan dalam upacara-upacara penting di keraton. Dibuat pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono X. Gamelan ini merupakan salah satu karya seni yang dibuat pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono X, menandai keberlangsungan tradisi gamelan di keraton. Kanjeng Kyai Sangumulya termasuk dalam 21 perangkat gamelan pusaka yang dimiliki oleh Keraton Yogyakarta.
Tidak jauh berbeda dengan Gangsa Kanjeng Kyahi Sangumukti, gamelan ini dibuat pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono X pada tahun 1998. Gamelan ini memiliki laras pelog dan digunakan untuk mengiringi berbagai pertunjukan seperti beksan (tari), wayang kulit, wayang golek, dan uyon-uyon.
Pertunjukan ini merupakan bagian dari "Pentas Paket Wisata" yang didedikasikan untuk melestarikan dan mendiseminasikan kekayaan seni budaya Jawa kepada masyarakat dan wisatawan.
Uyon-Uyon & Tarian merupakan Pertunjukan musik gamelan (karawitan) dan tarian klasik yang menyajikan gending-gending serta tarian klasik gaya Keraton Yogyakarta.
Uyon-uyon adalah bentuk pertunjukan musik gamelan klasik yang berkembang dan dilestarikan secara turun-temurun di lingkungan Keraton Yogyakarta. Lebih dari sekadar pertunjukan seni, uyon-uyon merupakan ekspresi budaya yang menyatu dengan nilai-nilai spiritual, tata krama, dan filsafat hidup masyarakat Jawa. Dalam suasana yang tenang dan khusyuk, alunan gendhing disajikan secara terstruktur dan sakral, menjadi sarana penghayatan rasa, kontemplasi, serta penghormatan terhadap Sang Pencipta dan para leluhur. Pertunjukan uyon-uyon biasanya digelar dalam berbagai upacara adat keraton, seperti Sekaten, Garebeg, Jumenengan Dalem (penobatan Sultan), dan Tingalan Dalem (peringatan ulang tahun Sultan). Gamelan yang digunakan terdiri dari seperangkat instrumen tradisional, dimainkan oleh para abdi dalem karawitan dan sanggar karawitan sekita Yogyakarta yang terlatih secara khusus, lengkap dengan sindhen dan gerong. Jenis laras yang digunakan—slendro dan pelog—melahirkan warna musikal yang khas, membangun suasana batin yang halus dan penuh tata. Melalui uyon-uyon, Keraton Yogyakarta tidak hanya menjaga kesinambungan warisan budaya adiluhung, tetapi juga menyampaikan pesan moral dan filosofi Jawa yang mengajarkan keseimbangan antara rasa, cipta, dan karsa. Bagi masyarakat maupun wisatawan, menyimak uyon-uyon adalah kesempatan untuk menyelami kedalaman budaya Jawa yang tak lekang oleh waktu.
Wayang Golek atau yang sering disebut dengan Wayang Golek Menak Yogyakarta merupakan pertunjukan Wayang Golek yang menggunakan Serat Ménak sebagai sumber cerita. Serat Ménak merupakan karya sastra Persia Qisaa’I Emr Hamza, yang masuk ke Melayu sekitar tahun 1511. Karya sastra ini dikembangkan dalam bentuk prosa dengan judul Hikayat Amir Hamzah.
Wayang Golek Menak merupakan salah satu bentuk pertunjukan wayang tradisional yang berkembang di lingkungan Keraton Yogyakarta. Berbeda dari wayang golek Sunda yang mengangkat cerita Mahabharata atau Ramayana, Wayang Golek Menak menampilkan kisah-kisah dari Cerita Menak, yaitu narasi kepahlawanan tokoh Amir Hamzah—paman Nabi Muhammad SAW—yang dikisahkan dalam gaya sastra Jawa Islam.
Wayang ini disebut "golek" karena bentuk bonekanya berbentuk tiga dimensi, dipahat dari kayu, dan digerakkan dengan tangan oleh dalang. Di Keraton Yogyakarta, bentuk wayang golek ini unik, memiliki raut wajah dan busana yang mencerminkan karakter-karakter kerajaan Islam dalam estetika Jawa, serta menampilkan ciri khas tata artistik keraton yang halus dan simbolik.
Wayang Golek Menak tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana dakwah, pendidikan moral, dan penanaman nilai-nilai kepahlawanan. Melalui tokoh Amir Hamzah dan para musuhnya, pertunjukan ini mengangkat tema perjuangan melawan kezaliman, loyalitas, keberanian, dan spiritualitas. Cerita Menak sendiri ditulis dalam bentuk tembang macapat, dan pada pertunjukannya biasanya dibacakan secara tembang oleh dalang.
Di Keraton Yogyakarta, pertunjukan Wayang Golek Menak dulunya digelar dalam momen-momen penting, seperti menyambut tamu agung atau perayaan hari-hari besar keraton. Sampai sekarang, keraton masih memiliki koleksi lengkap boneka wayang golek klasik, dan tetap melestarikannya melalui pementasan berkala dan pendidikan budaya kepada generasi muda.
Melalui pelestarian Wayang Golek Menak, Keraton Yogyakarta tidak hanya menjaga kekayaan seni pertunjukan Jawa, tetapi juga memperkuat identitas budaya Islam-Jawa yang hidup harmonis dalam bingkai tradisi keraton.
Wayang kulit gagrag Ngayogyakarta merupakan wayang kulit yang secara morfologi memiliki ciri bentuk, pola tatahan, dan sunggingan (pewarnaan) yang khas. Cerita / lakon dalam pewayangan mengambil dari Serat Purwakandha, yang merupakan karya sastra Jawa monumental dari Kraton Yogyakarta, khususnya oleh Sri Sultan Hamengkubuwono V, yang berisi rangkaian kisah mitologis dan historis, dimulai dari penciptaan (Nabi Adam) hingga kisah pewayangan seperti Mahabharata dan Ramayana
Wayang Kulit merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional yang paling tua dan sakral dalam budaya Jawa, serta menempati posisi penting dalam kehidupan budaya Keraton Yogyakarta. Menggunakan boneka pipih yang terbuat dari kulit kerbau dan digerakkan oleh dalang di balik kelir (layar), wayang kulit tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga media pendidikan moral, filsafat, dan spiritualitas.
Di lingkungan Keraton Yogyakarta, wayang kulit menjadi bagian integral dari berbagai upacara adat dan peristiwa penting, seperti Tingalan Dalem, Jumenengan Dalem (penobatan Sultan), serta perayaan keagamaan seperti Maulid Nabi Muhammad SAW dalam bentuk Wayang Wahyu. Keraton memiliki pakem khusus dalam penyajian wayang, baik dalam alur cerita, iringan gamelan, teknik dalang, hingga tata busana dan bentuk karakter tokohnya, yang mencerminkan estetika dan etika keraton.
Wayang kulit di keraton umumnya mengangkat kisah Mahabharata dan Ramayana, namun ditafsirkan dalam sudut pandang khas Jawa yang sarat makna. Selain itu, terdapat pula Wayang Purwa dan Wayang Wahyu, yang masing-masing membawa nilai-nilai luhur dari ajaran Hindu dan Islam yang telah di-Jawa-kan dengan halus.
Peran dalang dalam pementasan sangat penting. Ia bukan hanya penggerak cerita, tetapi juga penyampai petuah, filosofi, serta pembimbing spiritual melalui simbol dan narasi. Dalang keraton biasanya berasal dari keluarga abdi dalem yang telah menjalani laku dan pendidikan khusus.
Keraton Yogyakarta juga memiliki koleksi wayang kulit bersejarah, termasuk wayang-wayang peninggalan Sultan terdahulu, yang masih disimpan dan dipelihara dengan penuh kehormatan. Pelestarian wayang kulit terus dilakukan melalui pendidikan budaya, pementasan reguler, serta kolaborasi dengan seniman dan akademisi.
Dengan menjaga warisan ini, Keraton Yogyakarta tidak hanya mempertahankan bentuk seni tradisional yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia, tetapi juga menyuarakan kearifan lokal yang menyatukan keindahan seni dengan nilai-nilai luhur kehidupan.
Macapat merupakan Seni vokal tradisional Jawa yang berupa pembacaan atau pelantunan puisi (tembang) yang terikat aturan guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu, seringkali berisi nasihat atau cerita kuno. Cerita yang dilantunkan mengambil dari Serat Babad Meentawis yang merupakan naskah sastra Jawa kuno berbentuk babad (Sejarah/riwayat), menceritakan kisah-kisah sejarah Kerajaan Mataram. Selain itu, cerita yang dilantunkan juga mengambil dari Babad Sri Sultan Hamengkubuwono IX, mengisahkan kehidupan Sultan ke-9 Yogyakarta (GRM Dorojatun, 1912-1988) yang luar biasa, dari pendidikan mandiri ala Belanda hingga menjadi figur sentral perjuangan kemerdekaan (menandatangani bergabung dengan RI dan memimpin Serangan Umum 1 Maret 1949)
Tembang Macapat adalah bentuk puisi tradisional Jawa yang dinyanyikan dengan aturan metrum (guru lagu dan guru wilangan) tertentu. Di lingkungan Keraton Yogyakarta, macapat memiliki kedudukan yang sangat penting sebagai bagian dari sistem pendidikan, spiritualitas, serta pelestarian nilai-nilai budaya Jawa. Lebih dari sekadar seni tutur, macapat adalah media transmisi ajaran hidup, filosofi, dan adab yang diwariskan secara turun-temurun.
Macapat biasanya dinyanyikan dalam suasana yang tenang, baik dalam lingkup pendidikan keraton, ritual keagamaan, maupun sebagai bagian dari pertunjukan seni tradisional seperti beksan, wayang golek, dan pementasan sastra klasik. Di keraton, tembang macapat menjadi bagian dari tata cara ngudi kawicaksanan—usaha mencapai kebijaksanaan batin.
Setiap jenis tembang dalam macapat memiliki karakter dan fungsi tersendiri. Misalnya:
-
Pangkur menggambarkan semangat dalam menghadapi tantangan hidup.
-
Dhandhanggula melambangkan keindahan dan keluhuran cinta kasih.
-
Sinom digunakan untuk mengajarkan nilai-nilai etika kepada generasi muda.
-
Pocung sering digunakan untuk merenungi akhir kehidupan dan spiritualitas.
Macapat di keraton tidak hanya diajarkan secara lisan, tetapi juga tercatat dalam berbagai naskah kuno yang disimpan di perpustakaan keraton dan diwariskan melalui pendidikan para abdi dalem, pujangga, dan seniman keraton. Lagu-lagu macapat dibawakan dengan laras gamelan yang lembut, kadang dilantunkan secara solo (padhang ulun), kadang juga dikombinasikan dengan gending tertentu.
Pelestarian tembang macapat di Keraton Yogyakarta terus dilakukan melalui kegiatan budaya, lokakarya, pementasan, dan kolaborasi dengan institusi pendidikan seperti ISI Yogyakarta. Dengan itu, Keraton tidak hanya menjaga kelestarian sastra Jawa klasik, tetapi juga menyemai rasa budi pekerti, introspeksi diri, dan cinta terhadap bahasa serta budaya lokal di tengah kehidupan modern.
Fragmen Wayang Wong adalah pementasan drama tari yang mengambil potongan cerita (lakon) dari kisah epik Ramayana atau Mahabharata, menggabungkan tari, drama, dan karawitan gaya Yogyakarta.
Fragmen Wayang Wong adalah bentuk seni pertunjukan klasik yang dipentaskan di Keraton Yogyakarta, menampilkan kisah-kisah epik dari Mahabharata dan Ramayana, tetapi dimainkan oleh manusia sebagai tokoh-tokohnya, bukan boneka seperti dalam wayang kulit. Kata “fragmen” merujuk pada penggalan adegan yang dipilih secara tematik, biasanya berfokus pada satu peristiwa penting, yang disajikan secara padat, estetis, dan penuh simbolisme.
Di lingkungan keraton, wayang wong tidak sekadar pertunjukan drama tari. Ia merupakan media untuk memperkuat nilai-nilai etika, kepemimpinan, spiritualitas, dan pengabdian, sebagaimana tergambar dalam tokoh-tokoh utama seperti Rama, Sinta, Arjuna, atau Werkudara. Fragmen-fragmen yang dipilih biasanya memuat ajaran moral yang relevan dengan kehidupan, sekaligus menggambarkan perjuangan antara kebaikan dan kejahatan dalam bingkai budaya Jawa.
Fragmen wayang wong keraton ditampilkan dalam gaya tari klasik dengan pakem yang ketat. Gerak tubuh penari, riasan wajah, kostum, hingga intonasi vokal para tokoh disusun dengan cermat dan penuh makna. Musik pengiringnya adalah gamelan Jawa klasik, dilengkapi dengan suluk (nyanyian naratif dalang atau tokoh tertentu) yang membangun suasana dramatik dan spiritual.
Pementasan fragmen wayang wong biasanya digelar dalam acara-acara khusus keraton, seperti Jumenengan Dalem (penobatan Sultan), Tingalan Dalem, penyambutan tamu agung, atau pada perhelatan budaya keraton yang bersifat terbuka untuk masyarakat luas. Dalam konteks ini, keraton menjadi pusat pewarisan dan penguatan identitas seni pertunjukan Jawa yang luhur.
Keraton Yogyakarta menjaga keberlangsungan tradisi wayang wong melalui pelatihan intensif kepada para abdi dalem tari dan karawitan, serta bekerja sama dengan institusi seni seperti ISI Yogyakarta dan komunitas seni lokal. Fragmen wayang wong menjadi bukti nyata bahwa tradisi adiluhung tidak pernah mati, melainkan terus dihidupkan dalam bentuk-bentuk yang tetap setia pada ruh budayanya.
Gladhen Beksan Merupakan Sesi latihan tari klasik Keraton Yogyakarta yang terbuka untuk umum dan dapat disaksikan langsung oleh pengunjung, memberikan wawasan tentang proses pembelajaran tari di dalam istana.
Gladhen Beksan adalah kegiatan pelatihan tari klasik yang dilakukan secara rutin di lingkungan Keraton Yogyakarta sebagai bagian dari upaya pelestarian dan regenerasi seni tari keraton (beksan). Kata “gladhen” dalam bahasa Jawa berarti berlatih atau menggembleng diri, dan dalam konteks keraton, kegiatan ini memiliki makna lebih luas sebagai proses pendidikan budaya, pembentukan karakter, serta pewarisan nilai-nilai adiluhung melalui seni gerak.
Gladhen Beksan dilaksanakan oleh para abdi dalem bagian tari maupun murid-murid terpilih yang mengikuti pembinaan langsung dari para senior keraton atau guru tari yang telah diakui keahliannya. Pelatihan ini tidak sekadar mengajarkan teknik tari semata, tetapi juga mendidik peserta untuk memahami falsafah hidup Jawa yang tercermin dalam setiap gerak, irama, hingga sikap tubuh dalam beksan.
Jenis tarian yang dipelajari dalam gladhen beksan mencakup berbagai bentuk, antara lain:
-
Beksan Putra: tari gagah yang melambangkan kepemimpinan dan keprajuritan.
-
Beksan Putri: tari halus yang menonjolkan kelembutan, keanggunan, dan tata krama.
-
Beksan Wayang dan Beksan Montro: tari yang diangkat dari kisah-kisah pewayangan dan berfungsi sebagai pengajaran nilai moral serta spiritual.
Latihan biasanya dilangsungkan di bangsal-bangsal keraton seperti Bangsal Manis atau Srimanganti, dan dilakukan secara disiplin, penuh konsentrasi, serta mengikuti tata cara yang telah diwariskan turun-temurun. Tidak jarang, hasil dari proses gladhen ini dipentaskan dalam acara keraton maupun di hadapan masyarakat umum saat perhelatan budaya.
Gladhen Beksan merupakan bentuk nyata dari tekad Keraton Yogyakarta dalam menjaga kesinambungan tradisi tari klasik sebagai bagian dari identitas budaya Jawa. Melalui kegiatan ini, para generasi muda tidak hanya dilatih menjadi penari, tetapi juga penerus nilai-nilai luhur yang terkandung dalam seni beksan: ketekunan, ketertiban, keselarasan, dan pengabdian.
Ciptaning Mintaraga adalah lakon dalam pedalangan Jawa yang mengisahkan pertapaan Arjuna di Gua Mintaraga di Gunung Indrakila. Bertujuan mencari kesaktian untuk melawan angkara murka, Arjuna, yang dikenal sebagai Begawan Mintaraga atau Begawan Ciptaning, diuji dengan berbagai godaan, termasuk bidadari dan dewa yang menyamar. Ia berhasil melewati semua ujian dan mendapatkan panah Pasopati sebagai anugerah.
Mengisahkan tentang Sumantri, seorang kesatria yang mengabdi pada Prabu Harjumbara di negara Maespati. Sumantri berniat mencari jodoh seorang putri raja yang sakti mandraguna, Dewi Citrawati. Namun, ia harus melalui berbagai ujian dan tantangan yang diberikan oleh Prabu Harjumbara, termasuk mengabdi sebagai 'emang-emang' atau juru masak. Akhirnya, Sumantri berhasil membuktikan kesetiaannya dan kesaktiannya, dan berhasil memperistri Dewi Citrawati.
Kisah ini menceritakan upaya licik Arya Suman dalam menyingkirkan Patih Gandamana dan merebut kedudukannya sebagai menteri utama Kerajaan Hastina. Arya Suman memang berhasil mewujudkan keinginannya namun ia harus menderita cacat buruk rupa dan namanya pun diganti menjadi Patih Sangkuni.
Pregiwa dan Pregiwati adalah putri kembar Arjuna, yang lahir dari pernikahannya dengan Dewi Manuhara. Setelah dewasa, mereka memutuskan untuk pergi mencari ayah mereka, Arjuna, yang tinggal di Madukara. Di Madukara, mereka diterima dengan baik oleh Arjuna dan diperkenalkan dengan kehidupan di keraton. Dalam kisah pewayangan, Pregiwa menikah dengan Gatotkaca, sedangkan Pregiwati menikah dengan Pancawala.
Cerita Bima Suci mengisahkan perjalanan Bima dalam mencari Tirta Pawitra (Air Suci) atas perintah gurunya, Resi Dorna. Perintah ini sebenarnya merupakan tipu muslihat untuk mencelakakan Bima, namun Bima justru menemukan kebenaran sejati dan kesempurnaan diri dalam perjalanannya. Mengajarkan tentang hubungan antara manusia dengan Tuhan (Manunggaling Kawula Gusti).
Alap-Alap Siti Sendari adalah lakon wayang yang menceritakan kisah sayembara untuk mendapatkan putri Siti Sendari. Putra pejabat tinggi Ngastina, Sarjokesuma, terlibat dalam upaya perjodohan ini, namun mengalami banyak rintangan dan masalah. Lakon ini menyoroti dinamika politik dan intrik di antara tokoh-tokoh penting Ngastina.
Alap-alap Surtikanti menceritakan kisah pencarian pelaku penculikan seorang putri bernama Surtikanti. Prabu Salya merasa resah setelah mendapat laporan bahwa ada sosok yang menyerupai Arjuna sering mengunjungi keputren pada malam hari. Untuk membersihkan nama baiknya, Arjuna berinisiatif untuk menangkap pelaku sebenarnya.
Menceritakan kisah Petruk yang menagih janji kepada Prabu Kresna untuk memperistri putrinya, Dewi Prantawati. Petruk berhasil mengalahkan Lesmana Mandrakumara dalam sebuah sayembara. Janji tersebut diucapkan saat Petruk mengatasi serangan Prabu Pandupragolamanik penjelmaan Nala Gareng.
Kisah ini menceritakan tentang Dewi Srikandi putri Prabu Drupada yang berguru memanah kepada Raden Arjuna. Hubungan mereka berubah menjadi kekasih namun dipisahkan oleh Dewi Drupadi. Dewi Srikandi pun kembali ke negerinya dan berusaha menaikkan harga diri melalui peperangan melawan Prabu Jungkung Mardeya yang menginginkannya.
Prabu Kalimantara berkeinginan melamar Bathari Supraba, namun upaya itu gagal, sehingga ia menyerang Kahyangan Suralaya. Para dewa meminta bantuan tiga putra Resi Manumayasa. Bambang Kalingga beserta dua adiknya berhasil memukul mundur barisan wadya Nusantara. Prabu Kalimantara dan tentaranya sirna menjadi barisan Pusaka penjaga ketentraman semesta.
Cantrik Janaloka ditugaskan mengantar Pregiwa dan Pregiwati ke Madukara. Namun, ia melanggar sumpahnya dan mencoba merayu mereka. Tindakannya ditolak, dan ia dikejar oleh kedua putri tersebut. Mereka kemudian dihadang oleh Kurawa yang ingin menculik kedua putri. Cantrik Janaloka akhirnya tewas dalam pertempuran saat berusaha mencegah penculikan tersebut.
Bagian dari epos Ramayana. Prabu Ramawijaya mengirim Hanoman, kera putih sakti, sebagai utusan ke Alengka untuk menyelamatkan Dewi Sinta. Hanoman berhasil bertemu Dewi Sinta dan menyampaikan pesan Rama. Meskipun Rahwana menolak mengembalikan Sinta, Hanoman berhasil lolos dan kembali membawa kabar tentang keadaan Sinta.
Raden Burisrawa yang tergila-gila kepada Dewi Sembadra nekat menyusup ke Madukara, menyebabkan Dewi Sembadra tewas. Jasadnya dilarung oleh Pandawa. Raden Antareja menemukan jasadnya dan berhasil menghidupkannya kembali. Setelah kesalahpahaman dengan Gatotkaca selesai, Arjuna mengalahkan Burisrawa dan membawa Sembadra kembali ke Madukara.
Raden Dursala diutus Astina untuk menyabotase persiapan Pandawa menjelang Baratayudha. Gatotkaca awalnya kalah, namun disembuhkan oleh Resi Seta dan diberi ajian Narantaka. Setelah menikahi Dewi Sumpaniwati yang kuat menahan ajian tersebut, Gatotkaca menghadapi Dursala kembali dan berhasil membunuhnya dengan Aji Narantaka.
Hati Prabu Kresna terguncang menghadapi dilema: apakah melangkah seiring genderang perang Kurawa atau bersila berselimutkan cinta kasih Pandhawa. Sebagai Pemelihara Ketentraman Dunia, Kresna tersenyum walau hatinya menjerit menanggung beban sejarah dan pilihan sulit tersebut.
Prabu Nirbita, raja raksasa dari Himantaka, menyerang Kahyangan untuk menguasai takhta para Dewa. Para Dewa meminta bantuan kepada Raden Arjuna. Melalui pertempuran sengit, Arjuna akhirnya berhasil mengalahkan Prabu Nirbita. Kisah ini melambangkan kemenangan kebajikan atas angkara murka dan ketamakan.
Mengisahkan penobatan Gatotkaca menjadi raja di Kerajaan Pringgadani dengan gelar Prabu Anom Kaca Negara. Meskipun sempat dihalangi oleh pemberontakan pamannya, Brajadenta, yang dihasut oleh Kurawa, Gatotkaca berhasil memadamkan konflik tersebut. Melambangkan kematangan ksatria muda dalam menerima tanggung jawab kepemimpinan.
Menceritakan sepak terjang Bambang Megasutha, putra Raden Gatotkaca, yang turun ke medan laga untuk menunjukkan kesaktian dan baktinya. Megasutha menghadapi berbagai tantangan dari musuh yang ingin menguji kedaulatan Pringgadani. Kisah ini menonjolkan semangat kepahlawanan generasi muda dalam menjaga kehormatan leluhur.
Mengisahkan persaingan dan kesalahpahaman antara Gatotkaca (putra Bima) dan Prabu Sitija/Bomanarakasura (putra Kresna). Konflik dipicu oleh harga diri atau perebutan pengaruh terkait Dewi Siti Sendari. Pertempuran hebat terjadi karena keduanya memiliki kesaktian setara, hingga akhirnya dilerai oleh kebijaksanaan Sri Kresna.
Mengisahkan pengkhianatan Arya Suman (Sengkuni) terhadap Patih Gandamana. Arya Suman menjebak Gandamana dengan membuangnya ke dalam Sumur Upas (sumur beracun) agar bisa merebut jabatan Patih. Gandamana berhasil keluar hidup-hidup dan melampiaskan kemarahannya hingga wajah Suman cacat permanen.
Menceritakan penyerbuan Kerajaan Surateleng oleh Prabu Sitija (Bomanarakasura) untuk merebut kembali haknya dan mencari pengakuan sebagai putra Sri Kresna. Sitija berhasil menaklukkan Raja Surateleng dan merebut senjata sakti serta kendaraan pusaka.
Rambah 1
LAMPAHAN BASUDEWA GROGOL
Rambah 2
LAMPAHAN NARASOMA KRAMA
Rambah 3
LAMPAHAN ALAP-ALAPAN DEWI KUNTHI
Rambah 4
LAMPAHAN GENDARA-GENDARI NGEJAWA
Rambah 5
LAMPAHAN UGRASENA DRUPADA RATU
Rambah 6
LAMPAHAN HARYA PRABU KRAMA
Rambah 7
LAMPAHAN BAKA KRAMA
Rambah 8
LAMPAHAN BIMA BUNGKUS
Rambah 9
LAMPAHAN PERMADI LAIR
Rambah 10
LAMPAHAN BOGADENTA TAKON BAPA
Rambah 11
LAMPAHAN PANDHU LENA
Rambah 12
LAMPAHAN SEMBADRA LAIR
Rambah 13
LAMPAHAN KANGSA ADU JAGO
Rambah 14
LAMPAHAN LENGA TALA
Rambah 15
LAMPAHAN KUMBAYANA NGEJAWA
Rambah 16
LAMPAHAN PENDADARAN SISWA SOKALIMA
Rambah 17
LAMPAHAN EKALAYA
Rambah 18
LAMPAHAN BALE SIGALA-GALA
Rambah 19
LAMPAHAN BIMA BOTHOK
Rambah 20
LAMPAHAN ARIMBI BRANGTI
Rambah 21
LAMPAHAN GUNADEWA LAIR
Rambah 22
LAMPAHAN DRUPADI MURCA
Rambah 23
LAMPAHAN DREDAH WIRATHA
Rambah 24
LAMPAHAN GANDAMANA LENA
Rambah 25
LAMPAHAN GATHUTKACA LAIR
Rambah 26
LAMPAHAN BABAT WANAMARTA
Rambah 27
LAMPAHAN ALAP-ALAPAN RUKMINI
Rambah 28
LAMPAHAN SEMAR BARANG JANTUR
Rambah 29
LAMPAHAN GATHUTKACA RATU
Rambah 30
LAMPAHAN GATHUTKACA TAKON BAPA
Rambah 31
LAMPAHAN SURYATMAJA MALING
Rambah 32
LAMPAHAN DURYUDANA KRAMA
Rambah 33
LAMPAHAN NENGGALA ALUGORA MURCA
Rambah 34
LAMPAHAN BOMA TAKON BAPA
Rambah 35
LAMPAHAN BEDHAH DWARAWATI
Rambah 36
LAMPAHAN SRIKANDHI MAGURU MANAH
Rambah 37
LAMPAHAN BALADEWA MRATAPA
Rambah 38
LAMPAHAN BEDHAH MAGADA
Rambah 39
LAMPAHAN ABIMANYU LAIR
Rambah 40
LAMPAHAN SRIKANDHI KRAMA
Rambah 41
LAMPAHAN ALAP-ALAPAN WANUHARA
Rambah 42
LAMPAHAN RETNA SENTIKA CUKIL
Rambah 43
LAMPAHAN ALAP-ALAPAN PALUPI
Rambah 44
LAMPAHAN ANTAREJA TAKON BAPA
Rambah 45
LAMPAHAN BEGAWAN ADIMURCA
Rambah 46
LAMPAHAN PARTIPEYA KRAMA
Rambah 47
LAMPAHAN NAKULA KRAMA
Rambah 48
LAMPAHAN CIPTANING MINTARAGA
Rambah 49
LAMPAHAN SADEWA KRAMA
Rambah 50
LAMPAHAN BANYU SUCI PERWITASARI
Rambah 51
LAMPAHAN ONTRAN-ONTRAN NGASTINA
Rambah 52
LAMPAHAN BALE KENCANA SAKA DHOMAS
Rambah 53
LAMPAHAN ABIMANYU KRAMA
Rambah 54
LAMPAHAN ALAP-ALAPAN DEWI UTARI
Rambah 55
LAMPAHAN KALABENDANA LENA
Rambah 56
LAMPAHAN DURSALA LENA
Rambah 57
LAMPAHAN KERIS DHAPUR KALAMISANI
- Laras Madyo
Bantul - Kusumo Laras
Kota Jogja - Tunggal Jiwo
Bantul - Kridho Matoyo
Kulon Progo - Yayasan Gambirsawit
Kota Jogja - Sekar Rahayu Laras
Sleman - PWRI
Gunungkidul - Mudo Wiromo
Bantul - Mardi Budoyo
Kota Jogja - Laras Pareanom
Kota Jogja - Setyo Arum Budoy
Sleman - Karawitan Anak OCM
Bantul - Sanggar Tunas Budaya
Gunungkidul - Olah Seni
Kota Jogja - Cahyo Raras
Sleman - Langen Raras
Gunungkidul - Lestari Budaya
Bantul - Sanggar Puji Rahayu
Kulon Progo - Sanggar Tirta Kencana
Bantul - Kidung Cakrawala
Sleman - Karawitan Remaja Gongso Nagari
Gunungkidul - Sido Laras
Bantul - Karawitan Banyu Bening
Kulon Progo - Mudo Laras
Sleman - Sedyo Laras
Bantul - Guntur Mataram
Gunungkidul - Harjo Laras
Kulon Progo - Langen Raras
Kota Jogja - Metri Budoyo
Sleman - Karawitan Remaja
Kulon Progo - Karawitan Atmajaya
Gunungkidul - Ambarketawang Laras
Sleman - Langen Abdi Budoyo
Bantul - Langen Kusumo
Kota Jogja - Karawitan Laras Pertiwi
Bantul - Niti Budaya
Bantul - Laras Sworo
Gunungkidul - Ngesti Laras
Gunungkidul - Bale Gamel
Kota Jogja
-
Karawitan SD Muhammadiyah Sapen
Kota Jogja
-
Tantri Kridhamardawa
Kota Jogja
-
Olifant School
Yogyakarta Sleman
-
Karawitan Angkatan Laut
Bantul
- Ki MB. Cermo Kuncoro
PEPADI Kota Yogyakarta - Ki MB. Cermo Suwondo
PEPADI Kota Yogyakarta - Ki MW. Hartaka Wiguna
PEPADI Kota Yogyakarta - Ki MB. Cermo Kuncoro
PEPADI Bantul - Ki Mg. Ragil Jalu Pangestu
PEPADI Bantul - Ki MB. Cermo Darminto
PEPADI Sleman - Ki MB. Cermo Raharja
PEPADI Sleman - Ki MW. Cermo Baskara
PEPADI Kulon Progo - Ki Mry. Hartaka Wiguna
PEPADI Kulon Progo - Ki Mg. Ragil Jalu Pangestu
PEPADI Gunungkidul - Ki MB. Cermo Sugondo
Sanggar Kademangan
- Alby Ersani
PEPADI Kota Yogyakarta - Satriya Mahawira
PEPADI Bantul - Rama Harya Wijasena
PEPADI Sleman - Eifel Dhimas Nugroho
PEPADI Kulon Progo - Daneswara Swandaru
PEPADI Gunungkidul
- KMT. Purwohartono
PEPADI Sleman - KRT. Cermo Proboprayitno
PEPADI Gunungkidul - MB. Cermo Briawan
PEPADI Sleman - MB. Cermo Darminto
PEPADI Kulon Progo - MB. Cermo Guno
PEPADI Kota Yogyakarta - MB. Cermo Kuncoro (RB. Cermo Kuncoro)
PEPADI Kota Yogyakarta - MB. Cermo Raharjo
PEPADI Gunungkidul - MB. Cermo Sulino
PRABANDARU - MB. Cermo Suwondo
PEPADI Kota Yogyakarta - MB. Cermo Wignyoutomo
Setya Bekti Nata - MB. Cermogupito
PEPADI Gunungkidul - MB. Cermohadisutoyo
PRABANDARU - MB. Yudo Mintarjo
PEPADI Sleman - ML. Cermo Gundholo
PEPADI Kota Yogyakarta - ML. Cermo Kartika (ML. Cermo Kartiko)
PEPADI Kulon Progo - ML. Cermo Radyoharsono
PEPADI Sleman - ML. Cermohandoko
PEPADI Sleman - ML. Cermoprawiro
Setya Bekti Nata - MP. Cermo Broto
Setya Bekti Nata - MP. Cermo Pragola
PRABANDARU - Mry. Cermo Kondhowijoyo
PRABANDARU - MW. Cermo Baskoro
PEPADI Bantul - MW. Cermo Sutejo
PEPADI Kota Yogyakarta - MW. Dwijasuparman
PEPADI Bantul - MW. Hartokowiguno
PEPADI Kulon Progo - RB. Cermo Wacono
PEPADI Sleman
- Aditya Nicolas B
PEPADI Gunungkidul - Kelvin Albiyansah
PEPADI Gunungkidul - Anggara Pradipta Raehan
PEPADI Bantul - Anom Dwi Prasetyo
PEPADI Kulon Progo - Danangjaya
PEPADI Gunungkidul - Danu Nur Witono
PEPADI Bantul - Agung Sugiarto
PEPADI Bantul - Ilham Wisnu P
PEPADI Kota Yogyakarta - Pandu Winata
PEPADI Kota Yogyakarta - Ivo Lanta Sang Kesawa|
PEPADI Kota Yogyakarta - Pandu Pamungkas
PEPADI Kulon Progo - Reiki Desta
PEPADI Kulon Progo - R. Bagas Manjer Kawuryan
PEPADI Sleman
- Panggung Raras Budaya
Bantul - Ngambar Arum
Kota Jogja - Sekar Tamansari
Bantul - Sekar Arum
Gunungkidul - Pametri Budaya Jawi Ambarrukma
Sleman - Anggara Kasih
Kulonprogo - Sekar Manunggal Sleman Sembada
Sleman
- Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM)
Kota Jogja - Krida Beksa Wirama
Kota Jogja - Sanggar Tari Wiraga Apuletan
Kota Jogja - Siswa Among Beksa
Kota Jogja - Paguyuban Kesenian Suryokencono
Kota Jogja - Bale Seni Condroradono
Kota Jogja - Paguyuban Seniman Tari Bantul (PSTB)
Kota Jogja - Pusat Olah Seni Budaya Retno Aji Mataram
Kota Jogja - Yayasan Irama Tjitra
Kota Jogja - Forum Seni Tari Gunungkidul (FORSETA HANDAYANI)
Gunungkidul - Seniman Seniwati Kabupaten Kulonprogo (SENIKU)
Kulonprogo - Praja Beksa Sleman Sembada (Praba Sembada)
Sleman
- Akademi Komunitas Seni Budaya Yogyakarta
Bantul - FSP ISI Yogyakarta
Bantul - Pendidikan Seni Tari FSBS UNY
Kota Jogja - SMKI Yogyakarta
Bantul - UKM Swagayugama UGM
Kota Jogja
Bekerjasama dengan Tim Pengelola untuk menyusun jadwal pengisi pertunjukan paket wisata Sri Manganti, serta memeriksa dan memastikan kualitas pertunjukan agar selaras dengan pertunjukan gagrak Karaton Nyayogyakarta Hadiningrat.
M.Riyo Susilomadyo
MB. Cermosugondo
KRT. Cermoproboprayitno
KMT. Projosuwasono
KMT. Suryowaseso
Informasi Wisata
Jam operasional
Lokasi
Jl. Rotowijayan Blok No. 1, Panembahan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta