Tata ruang Kasultanan Yogyakarta bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan manifestasi filosofi mendalam yang dibangun sejak Perjanjian Giyanti 1755. Hubungan antara arsitektur material dan bentang alam ini mencakup dimensi sakral dan profan yang merefleksikan jati diri manusia Jawa. Pameran ini mengungkap bagaimana setiap corak dan fungsi bangunan merupakan simbol penghayatan hidup yang berkaitan dengan status sosial maupun spiritual.
Bentang alam Yogyakarta dipahami melalui konsep Sangkan Paraning Dumadi yang menggambarkan perjalanan hidup manusia serta prinsip Hamemayu Hayuning Bawana. Secara kosmologis, pembangunan wilayahnya didasarkan pada keseimbangan mikro dan makro kosmos yang melibatkan perlindungan sembilan arah mata angin atau Nawa Dewata. Filosofi ini kemudian diturunkan ke dalam pembangunan mental manusia sekaligus penataan fisik kota yang harmonis dengan alam dan penciptanya.
Relasi kuasa antara manusia dan alam terwujud nyata dalam konsep sumbu kosmis yang membentang dari Laut Selatan, Keraton, hingga Gunung Merapi. Tata kota ini menerapkan prinsip Catur Gatra Tunggal yang terdiri atas elemen keraton, alun-alun, masjid, dan pasar sebagai syarat utama keseimbangan pemerintahan. Selain itu, terdapat pula pembagian wilayah konsentris seperti buron wana dan buron toya yang menunjukkan keterkaitan erat antara narasi ekologis dan memori kolektif masyarakat.
Jangan lewatkan kesempatan untuk menyelami sisi realis dan filosofis-magis dari arsitektur Jawa dalam pameran SMARA-BAWANA: Tata Ruang Kasultanan Yogyakarta. Anda akan diajak untuk mengenal kembali jati diri dan ruang hidup yang mungkin selama ini dianggap wajar namun menyimpan makna yang sangat mendalam. Segera kunjungi pameran ini di Keraton Yogyakarta untuk menyaksikan bagaimana harmoni antara manusia, bangunan, dan alam semesta diwujudkan secara nyata.
Periode event
8 Mar 2026 - 30 Agu 2026
Jam Operasional Narahubung
Lokasi Event
Kagungan Dalem Kedhaton